Beranda > Islami > Poligami

Poligami

Salah dalam memahami hal berpoligami menjadikan icon agama islam menjaadi buruk. Dalam alquran Allh SWT berfirman :

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (annisa ayat 3)


Pengertian berpoligami

Kalau mau dirujuk kedalam alquran sebenarnya manusia sudah bisa mencerna ayat yang diatas. kalau poligami itu sendiri sebenarnya bukan berdasarkan nafsu saja, kalau senang dan punya uang…, trus  kawin lagi… nggak semudah itu lahh…

Kalau dibahas lebih dalam sebenarnya maksud dari ayat diatas adalah semua laki2 boleh menikah lebih dari 1. akan tetapi harus bisa berlaku “adil”. Kata ADIL dalam bebrapa rujukan tidak ada manusia yang mampu berlaku adil, dalam arti maksud kata adil adalah membagi dengan sama ukuran / takaran / rasa / kepada lebih dari satu.

Adil dalam membagi bagian dalam bentuk ukuran / takaran mungkin bisa, tetapi membagi adil dalam bentuk rasa tidaklah mudah, atau malah tidak mungkin manusia bisa berlaku adil dalam bentuk “Rasa”.

Contoh :

Dalam sebuah keluarga kecil yang mempunyai 3 orang anak, anak yang pertama kelas 2 SMA, yang kedua kelas 1 SMP, dan yang Ketiga kelas 4 SD. Bagaimana cara orang tua membagi rasa adil. contoh dalam membagi uang saku, Jika setiap anak di beri oleh orangtuanya masing2 20.000 rupiah,  Yang SMA karena ia harus sampai sekolahnya dengan 2 naik bus, ongkos yang harus dibayar 2500 x 2 = 5000. tetapi adiknya yng SMP hanya naik angkot 1 kali yang ongkosnya 1500. dan yang SD mungkin hanya dengan berjalan kaki sudah sampai ke sekolahnya..

apakah  adil hanya dengan membagi mereka uang saku masing2 dengan nilai yang sama..??

ya.. mungkin dalam bentuk “ukuran” nilai uang sudah adil, tetapi apakah adil dalam bentuk  “Rasa” akan kebutuhan masing2..??

dalam hal membagi kebutuhan saja tidak akan bisa mengarah adil. Maka bisa di simpulkan sulit manusia untuk berlaku adil apalagi dalam bentu “RASA”, walaupun mungkin masih ada manusia yang bisa berlaku adil menurut allah.

Dalam kacamata Islam bentuk Poligami sebenarnya harus merujuk kepada alQuran bukan hanya sebatas melampiaskan nafsu atau hanya alasan “daripada berzina lebih baik poligami”, tidak bisa hanya alasan yang bersifat manusiawi saja yang bisa dijadikan alasan. Tetapi harus lebih di timbang dari sisi yang lain.

 

Nabi melarangan poligami

Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

 

Aturan BePoligami


Pada pokoknya pasal 5 UU Perkawinan menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi suami yang akan melakukan poligami, yaitu:

*  Adanya persetujuan dari istri;
*  Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka (material);
*  Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka (immaterial).

Idealnya, jika syarat-syarat diatas dipenuhi, maka suami dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Namun dalam prakteknya, syarat-syarat yang diajukan tersebut tidak sepenuhnya ditaati oleh suami. Sementara tidak ada bentuk kontrol dari pengadilan untuk menjamin syarat itu dijalankan. Bahkan dalam beberapa kasus, meski belum atau tidak ada persetujuan dari istri sebelumnya, poligami bisa dilaksanakan.

 

Dampak terhadap istri yang suaminya berpoligami

1. Dampak psikologis: perasaan inferior istri dan menyalahkan diri karena merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya.

2. Dampak ekonomi rumah tangga: Ketergantungan secara ekonomi kepada suami. Walaupun ada beberapa suami memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, tetapi dalam praktiknya lebih sering ditemukan bahwa suami lebih mementingkan istri muda dan menelantarkan istri dan anak-anaknya terdahulu. Akibatnya istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari.

3. Kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. Hal ini umum terjadi pada rumah tangga poligami, walaupun begitu kekerasan juga terjadi pada rumah tangga yang monogami.

4. Dampak hukum: Seringnya terjadi nikah di bawah tangan (perkawinan yang tidak dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama), sehingga perkawinan dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Pihak perempuan akan dirugikan karena konsekuensinya suatu perkawinan dianggap tidak ada, seperti hak waris dan sebagainya.

Seringkali terjadi, para istri yang menerima suaminya berpoligami, akhirnya enggan untuk mengurus segala sesuatu, misalnya tentang nafkah. Hal ini diakibatkan karena istri sudah merasa kehilangan harapan. Atau bisa juga karena istri tidak mengetahui hak-haknya secara jelas.

Pada kenyataan poligami :

1. hanya menyengsarakan kaum wanita( materi maupun batin tersiksa)

2. anak – anak yang menjadi korban karena kurangnya perhatian dari seorang ayah.
3. Lebih banyak melakukan diam2 anpa sepengetahuan istri pertama

4. Bahkan banyak yang berlaku tidak ADIL……….

Wallahu A’lamu bishowab…..

 

Kalau Prinsip saya berpoligami boleh dilakukan asalkan yang meminta adalah istri”

Setuju….???


 

(#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ

Kategori:Islami Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: