Beranda > Tak Berkategori > Harapan Seorang Awam

Harapan Seorang Awam

Seorang  yang baru Muallaf beberapa minggu yang lalu bertanya kepada seorang Ustad;

M: Pak Ustad, saya masih bingung dalam menjalankan ibadah dalam islam. saya melihat banyak sekali perbedaan2 yang terjadi di kampung saya…

U: Maksudnya…??

M: Gini pak Ustad.. waktu saya sholat di masjid saya lihat ada orang yang bersedekap di dada, ada yang di perut, ada yang di perut sebelah kanan, ada yg diperut sebelah kiri, Trus waktu duduk yang pake tunjuk jari itu, ada yg jarinya diam, ada yg diputer2 jarinya, ada yg naik turun….. yang benar yang mana pak ustad….??

U: Ooooo itu biasa mas… dalam islam diajarkan menghormati perbedaan, meskipun itu ada dalam hal ibadah. pedoman islam itu hanya alquran dan hadist, kalau ada perbedaan itu terjadi karena adanya perbedaan dalam memahami isi alquran atau pun hadist.

M: …?????

ya…. begitulah yang terjadi. sepenggal dialog tadi sudah barang tentu menjadi pemikiran kita bersama. Jangankan seorang muallaf yang baru memasuki wilayah keislaman, diantara kita saja masih banyak yang belum faham (awam) walaupun islamnya dari mulai lahir. Karena perbedaan itulah banyak di suatu wilayah islamnya terpecah belah. saling menuduh kesalahan, saling mengkafirkan, saling membid’ah kan dan saling membentuk kelompok sendiri2. kalau tidak satu faham tidak mau berjama’ah, Tidak mau ikut pengajian yang bukan satu kelompoknya.dll

kalau mau difahami ini lebih kepada ego kita masing2, JIka ada perbedaan kita menilai bahwa yang kita lakukan sudah benar dan yang oranglain lakukan itu salah, semua menurut pemahaman yang pernah kita terima dari guru2 kita dan kita yakini itu benar.

Perbedaan-perbedaan ini sebenarnya banyak membingungkan kita. ambil contoh : dalam menentukan tanggal 1 Ramadhan dan 1 syawal, Dalam hadist rasulullah dalam menentukan hal tersebut harus mendahulukan melihat bulan (Hilal) secara fisik, kalau tidak bisa terlihat / terhalang baru dengan metode ilmu hisab (Hitungan).

“Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan, maka berpuasalah” [Al-Baqarah : 185]

FirmanNya:

“Artinya: Mereka bertanya tentang hilal. Katakanlah : Sesungguhnya ia adalah penentu waktu bagi manusia” [Al-Baqarah : 189]

dalam menentukan 1 syawal jika tidak mengikuti yang telah di syariatkan maka akan fatal akibatnya. contoh begini setelah di hisab oleh kaum “A”  di tentukanlah 1 syawal akan jatuh pada hari RABU, tetapi  kaum “B” berpendapat hari KAMIS. Jika ternyata setelah di rukyat, hilal jatuh pada hari Rabu maka kaum B pada hari rabu masih berpuasa, sedangkan berpuasa pada 1 syawal hukumnya HARAM. Jika 1 syawal jatuh pada hari Kamis maka kaum A pada hari Rabu sudah tidak berpuasa padahal hari rabu masih masuk kedalam bulan Ramadhan, jika tidak berpuasa pada bulan ramadhan tanpa ada halangan maka berdosa…….nah inikan fatal akibatnya, bukan hanya salah tapi juga ada konsekwensi dosa besar.  Kalau mau mengikuti apa yang telah di syariatkan maka tidak akan terjadi perbedaan…….

ini salah satu contoh perbedaan2 yang sering terjadi. Masih banyak perbedaan perbedaan yang lain.

—— Janganlah karena perbedaan tersebut kita akhirnya jadi terpecah belah, Hormati perbedaan dalam hal ibadah, Janganlah egois merasa yang kita lakukan adalah yang paling benar.  Amal ibadah siapa yang diterima oleh Allah kita tidak tahu, karena semua hanya Allah yang tahu——.

Waalahua’lam bishowab……

Kategori:Tak Berkategori
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: